TENTARA PELAJAR DI KEDU SELATAN - Bagian I

27 Jul 2011

Sebagaimana telah banyak ditulis dalam buku kenangan atau Buku Perjuangan Tentara Pelajar, maka embrio berdirinya Tentara Pelajar bermula dari para pelajar yang pada awal kemerdekaan tergabung dalam satu-satunya organisasi pelajar yaitu Ikatan Pelajar Indonesia (IPI).

Sewaktu Pemerintah Pusat Republik Indonesia hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta, maka Pengurus IPI yang waktu itu diketuai oleh Tatang Machmud (lebih dikenal sebagai pencipta lagu anak) ikut pula hijrah ke Yogyakarta. Memenuhi tuntutan banyak anggota IPI yang menginginkan agar IPI mempunyai pasukan tempur sendiri, juga supaya pelajar-pelajar yang sudah bergabung dalam pasukan kelaskaran lain yang anggotanya bukan pelajar, maka dibentuklah apa yang waktu itu disebut IPI Bagian Pertahanan yang kemudian berubah nama menjadi Markas Pertahanan Pelajar (MPP) . MPP ini terdiri dari 3 resimen yaitu:

1. Resimen A di Jawa Timur dipimpin oleh Isman

2. Resimen B di Jawa Tengah dipimpin oleh Soebroto

3. Resimen C di Jawa Barat dipimpin oleh Mahatma.

Kemudian pada 17 Juli 1946di Lapangan Pingit Yogyakarta atas perintah Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat, oleh Mayor Jendral dr. Moestopo, seorang petinggi di MBTKR, telah dikukuhkan dan dilantik pasukan pelajar menjadi TENTARA PELAJAR dengan beberapa perbedaan identitas sebagai berikut:

Di Jawa Timur dengan nama Tentara Republik Indonesi Pelajar (TRIP) dengan nama Batalyon 1000 sampai dengan 5000;

Di Jawa Tengah dengan nama Tentara Pelajar (TP) terdiri dari :

Batalyon 100 di Solo dipimpin oleh Prakosa

Batalyon 200 di Salatiga dan Pati dipimpin oleh Darjono Wasito kemudian digantikan oleh Marwoto.

Batalyon 300 di Yogyakarta dipimpin oleh Martono

Batalyon 400 di Cirebon

Batalyon 500 di Pekalongan

Di Jawa Barat juga disusun pasukan pelajar dengan nama Corps Pelajar Siliwangi (CPS) dan nama lainnya. Ketika mereka harus hijrah dan berada di Yogyakarta, mereka dikenal dengan nama Kompi Solichin GP yang bahu membahu dengan pasukan pelajar lainnya mengikuti pertempuran di garis depan.

Di samping itu, ada pasukan pelajar dari berbagai Sekolah Teknik yang tergabung dalam Tentara Genie Pelajar (TGP). Mereka dikenal ahli dalam bidang konstruksi dan peledak, yang tugasnya sebagai tenaga bantuan pasukan infantri.

Ada juga Corps Mahasiswa (CM) yang jumlahnya tidak banyak dan masih dalam hitungan jari.

Batalyon 300 di Yogyakarta dibagi menjadi beberapa Kompi :

1. Kompi 310 di Yogyakarta dipimpin oleh Suwandi/ Moh. Said

2. Kompi 320 di Yogyakarta dipimpin oleh Tjok Saroso Hurip

3. Kompi 330 di Kedu Selatan dipimpin oleh Wijono terdiri dari seksi-seksi:

a. Seksi 331 di Purworejo dipimpin oleh Toewoeh

b. Seksi 332 di Kebumen dipimpin oleh Sadar Sudarsono

c. Seksi 333 di Gombong dipimpin oleh David Sulistyanto

d. Seksi 334 di Kutoarjo dipimpin oleh Chajat Sumarsono

e. Seksi 335 di Karanganyar dipimpin oleh Soetrisno

f. Seksi 336 di Kebumen/ Prembun dipimpin oleh Samijo Soetoro

g. Seksi TGP dipimpin oleh Alwan Sutanto.

Kompi 330 juga dilengkapi dengan personel :

Wakil Komandan/ Kepala Staf: Imam Pratignjo

Bagian Kesehatan : Koento Wibisono

Bagian Keuangan : Bambang Karsono

Markas Tentara Pelajar Kompi 330 adalah Hotel Van Laar . Ketika Paguyuban Pelajar Pejuang Kemerdekaan Kedu Selatan berniat menjadikan hotel itu sebagai Wisma Ganesha, bangunan itu telah digunakan sebagai salah satu instansi pemerintah Kabupaten Purworejo.

Dengan Penetapan Presiden No. 14 tahun 1946 maka seluruh pasukan pelajar di Indonesia disatukan dalam Brigade 17 yang masuk dalam Kesatuan Reserve Umum (KRU) W. Konsekuensinya adalah penyusunan kesatuan menjadi 4 Detasemen:

1. Detasemen I adalah ex Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di Jawa Timur yang dipimpin oleh Isman

2. Detasemen II adalah ex Tentara Pelajar Batalyon 100 Solo ditambah Laskar Kere, Laskar Jelata dan lain-lain, dipimpin oleh Achamdi

3. Detasemen III adalah ex Tentara Pelajar Batalyon 300 dipimpin oleh Martono, terdiri dari :

a. Kompi I adalah ex TP Batalyon 200 di daerah Semarang/ Pati dipimpin oleh Marwoto. Pada perkembangannya Kompi ini melebur dalam Detasemen II.

b. Kompi II di Yogyakarta dipimpin oleh Sudarsono dan beberapa waktu kemudian digantikan oleh Mustafa Supangat

c. Kompi III di Kedu Selatan dipimpin oleh Wijono

d. Kompi IV di Magelang dipimpin oleh Agus Sumarno

e. Kompi V di Yogyakarta dipimpin oleh Wasito.

4. Detasemen IV adalah Tentara Pelajar di Jawa Barat yang dipimpin oleh Solichin GP.

Dalam reorganisasi kali ini terjadi peleburan luar biasa yaitu antara Kompi III dan IV . Semua pelajar setingkat SLTA masuk ke dalam Kompi III dan para anggota TP dari pelajar setingkat SLTP masuk ke dalam Kompi IV. Hal sama terjadi pada Kompi II dan V.

Sebelum rencana itu terlaksana terjadi Clash (Perang Kemerdekaan) II tanggal 18 Desember 1948. Anggota TP yang telah kembali bersekolah di SMA Peralihan Magelang serta Yogyakarta dan kota-kota lainnya kembali membentuk pasukan yang bergerilya. Komandan Kompi III Wijono, Kepala Staf Imam Pratignjo dan beberapa anggota seperti Soedihardjo, Koento Wibisono, Bambang Soekarsono, Imam Soebechi, Abdullah Satari, Manggih dan lain-lain berada di Mlaran melakukan konsolidasi dan membentuk pasukan Seksi I yang bergerilya di sekitar kota Purworejo. Sementara itu, Komandan Kompi III diserah-terimakan kepada Soebijono.

patung-tp-kulon-progo


TAGS Tentara Pelajar Kedu Selatan Karya Purna Bhakti Soewignjo


-

Author

Follow Me