Dua Pejuang - Sajak Bambang Oeban

28 Jul 2011

aku-salaman-n-bambang-oeban-2

Di warung pinggir jalan

ia menenggak minuman sambil numpang

menyaksikan berita di layar kaca

seorang konglomerat gaek

terjerat kasus penggelapan uang Negara

Dengan amarah membara dalam dada

ia lantas pergi sambil berludah

Lalu, bergegas ia pergi ke taman

Pada pusat kota

Di bawah langit di atas bumi merah putih

seorang kakek berdiri tegap

di depan patung pejuang, tinggi menjulang

Binar matanya mengupas rindu lama

ia melarut di masa revolusi

Ia pandangi wajah patung itu dengan dengus nafasnya

sesekali tergeleng menahan haru

Terkadang dihentakkan kakinya

Mulutnya menggeremang

Hmmm

Getar jiwanya bergolak menggelegak

Tekad semangatnya meletup terbara mengudara

Kepalnya teracung sambil berteriak

Merdeka!

Merdeka!

Merdeka!

Senyumnya berbalut pahit bercampur getir

membungkus batin mengiringi sia hidupnya,

Mengapa Tuhan belum mengajaknya pulang?

Karena merasa dunia membuangnya

Matahari bias memburai berbagi panas cahaya di kepala

Baju celana basah keringat, dia terus bertahan

Di depan patung pejuang dari perunggu

Lapar dahaga diabaikan, sebagai bukti kepada kawan,

darahnya tetap mengental naluri pejuang tak perlu pujian

Dengan menengadahkan kepala,

kakek itu berkata!

Salam hormat, salam merdeka!

Ingatkah kamu?

Aku ini sobatmu, kita satu regu jadi serdadu

di arena pertempuran berdarah tempo itu

memerangi penjajah yang serakah!

Ketika kamu nyaris disikat peluru, malahan aku jadi korban!

Lihatlah kawan, kaki kananku cacat!

Bila kumat nyerinya, anganku terbawa arus masa dulu,

pertempuran berdarah terus berpacu

sampai hari ini ternyata masih tersisa!

Wahai kawan!

Siapa bilang sejarah bias hilang?!

Aku siap menantang dan mengemplang

siapa berani bicara sembarang, akan ku tendang!

Engkau paham sifatku, aku pantang tersinggung

emosiku spontan menggunung, dengan lengan digulung

aku siap bertarung

Meski bermandi darah, aku tak mau menyerah kalah

Akulah serdadu berhati singa!

Tapi kepada kamu, aku sering mengalah

karena terikat hutang jasa

Kau memang bakat

jadi perwira

Dalam memimpin, aku tak sehebat kamu!

Aku selalu menggunakan otot, sedang kamu memakai otak!

Kau pandai menenangkan keadaan, bila teman rebut

Sementara aku, bukan menyelesaikan perkara

malah timbul keruwetan!

Otakku lebih bagus dibandung otakku!

Kamu pakai otak di kepala, aku pakai otak di dengkul!

Makanya kamu panggil aku, kopral dengkul!

Saking kesalnya, ku lempar kamu dengan batu!

Keningmu berdarah,

Kita pun adu jotos sampai babak belur,

sampai kita kecapekan, lalu kita berjabat tangan,

bersahabat lagi!

Kita memang dua serdadu gila!

Nyali serupa banteng ketaton,

Dengan garang kandang musuh diterjang!

Pantang mundur tak takut nyawa melayang!

Kita terus berperang berkubang darah

Tak kenal kata menyerah atau pasrah

Terus memburu membunuh perusuh

meski senjata cuma sebatang bambu!

Serbu kita berseru!

Majuuu!

Ingatlah kau kawan?!

Banyak kawan seperjuangan

tak cuma cacat, bahkan jadi mayat

buat makan malam si burung bangkai!

Perut kosong tak lantas diam

Meski terlemas, tetap angkat senjata.

satukan tekad, raih merdeka

Modal kita hanya semangat

dan tekad kuat!

Manakala Hirosima Nagasaki

dibantai bom oleh tentara sekutu,

buru-buru proklamasi dikumandangkan

Bung Karno dan Bung Hatta,

kita lepas terpisah

ya kawan!

Setelah Jepang minggat

Inggris dan Nica pesta kerak telor di Betawi

Peluru dihamburkan di rumah-rumah

Karet, Dukuh Atas, Gang Tengah, Sentiong menjerit tersayat

Para penduduk kalang kabut terdesak keadaan kalut

Anak tergeletak ada lubang berdarah di dada

Nenek terhuyung karena lemah jantung

Para pejuang jadi hewan buruan

Di mana para pemuda sembunyi?

Ancol, Kramat, Senin, Tanah Tinggi,

Kalibaru, Bungur dan Kepu mengerang

Deru peluru berdesing membuat udara bising

Luka, cacat dan kematian menyatu dalam darah

Jakarta dalam cengekeraman Inggris

Bedebah !

Inggris dan Nica adalah kawanan macan yang lapar

Menggerayangi seisi negeri demi menguasai hasil bumi

mulut-mulut bau brandy dan wisky

asyik masyuk menikmati pesta maut

Seperti ular mereka terus merambat

Tanah Parahyangan disikat

Bandung Utara dan Selatan menggelepar

Derap langkah serdadu, amarah rakyat terpicu

Di Sekeloa, Stasiun, Viaduct, Lengkong-Cikawao

Dan Waringin pertempuran bagai pesta darah,

mesiu dan pesta kembang api!

Sepanjang jalan Garuda

Baku perang tembak tiga hari tiga malam

Bandung mengukir api di langit

Udara bau anyir darah dan daging terpanggang

Bandung harus dikosongkan

Seru Inggris dan Nica

Tidak!

Ada perintah dari Yogya

Tiap sejengkal tanah tumpah darah

Harus dipertahankan!

Nasution berseru: Bumi hanguskan kota Bandung

Cimahi hingga Ujungberung berdentuman ledakan bom,

Api menjadi raja di kota kembang!

Bandung jadi santapan api!

Bandung telah jadi lautan api!

Bandung telah ditelan api!

Tidak, Bandung Lautan Api!
Ya, Bandung Lautan Api

Ratusan ribu rakyat mengungsi

sambil menyanyikan lagu Mars

Hano-halo Bandung

Di Semarang, Jepang masih membandel!

Mereka tidak ihlas menyerahkan senjata

Mereka malah mengepungdan menteror gedung-gedung

merampas senjata para pemuda dan

melakukan pembunuhan keji

Dokter Katyadi gugur, segenap Para pemuda dari tanah Jawa,

terbakar amarah api dendam pantang padam

Biar tenaga singkong, nyali jangan gosong

Dari Demak, Pati, Cepu, Purwodadi, Solo, Yogya,

Magelang, Ambarawa, Banyumas, Kendal, Pekalongan,

Purwokerto bersatu dalam mengganyang Jepang!

Lima hari merangkai perang!

Wongsonegoro ditawan,

sebagai jaminan hentikan

pertempuran!

Kodok sialan!

Bung Tomo matanya merah darah

Di ubun caci maki mengental

Di tangan senjata sudah tergengam

Di dada, amarah kian meluap

Melihat tentara Inggris dan pasukan Nica

Hendak melalap Surabaya!

Bedebah!

Merah putih dicampakkan!

Senjata rakyat wajib diserahkan!

Surabaya dihinakan!

Ora sudi, diancuk!

Kami hanya ada dua pilihan:

Merdeka atau mati!

Kami tak ingin tunduk pada penghianat!

Insiden berdarah di Gedung Internatio

dan Jembatan Merah, telah merenggut nyawa

Jenderal Mallaby: Sang Perwira Perkasa !

Arek Suroboyo pantang mundur pada penjajah

Inggris, kita linggis Nica kita setrika Jepang kita ganyang !

Lebih terpuji jadi mayat daripada harus menyerah !

Bung Tomo meraung bagai harimau,

melihat tentara sekutu semakin kalap dan keranjingan,

dari darat, udara dan laut rentetan peluru

dimuntahkan dan bom diledakkan.

Korban bergelimpang di mana-mana

Darah menggenang

Berteriak Bung Tomo,

Terus maju !

Allahu Akbar !

Serbu !

Lihatlah !

Rakyat tak sudi Ambarawa dijarah.

Tentara rakyat terus menyeruduk,

Inggris dan Nica kewalahan, tahanan Jepang dikerahkan

Benteng Banyubiru milik pribumi

bukan Inggris, Nica atau sisa Jepang !

Wahai kawan !

Kita memang pejuang, tapi kita kurang banyak tau

kejadian perang secara menyeluruh

Makanya, aku cari saja buku di pasar loak,

kan beres !

Wahai kawan !

setelah sekian puluh tahun kita berpisah

rupanya kamu di sini

Hanya padamu ku berkata !

Hidupku kian sebatang kara !

Tinggalku di gubug liar dan kumuh,

menyatu dengan air sungai yang keruh

bila dating banjir, terkubur lumpur !

Memang nasib tak mudah ditentang !

Aku kerap diusir, dijebloskan ke panti sosial!

Pantang aku bilang bekas pejuang !

dan aku bilang kakiku,

terkena kusta !

Aku tak mau siapa tahu,

Akulah mantan pejuang !

Aku ingin menikmati hidup apa adanya !

Tak mimpi banyak harta apalagi menjual nama pejuang !

Mungkin satu tak seribu !

Semangat berjuang bukan sebab uang !

Perjuangan bukan pesta makan-makan,

air mata, darah dan kematian menjadi taruhan !

Ahaaa !

Inilah cerita di negeri merdeka, kadang tak karuan jadinya,

di abad kemajuan pembangunan,

mengapa moral jadi barang murahan selalu ditelantarkan

Sekali waktu menjelang sore hari

aku merenung di trotoar jalan

di antara lalu lalang kendaraan

Tiba-tiba air ludah mampir di mukaku,

kiriman dari mobil mewah warna ungu

Aku geram, darahku menggeram !

Kulempar batu, pecahlah kaca mobil itu !

Aku pun diamankan,

diminta pertanggungjawaban,

tidak mampu, kataku !

Tak ingin kubilang,

Aku mantan pejuang !

Inilah nasib si tua mantan pejuang

selalu dikalahkan kehidupan !

Aku dikira jahat, sebagai perusak !

Aku difitnah, dianggap sampah !

Sungguh bedebah !

Bara api membakar jiwaku !

Kepedihan merajam jantungku !

Mengapa keadilan meluntur ?!

tak punya kesempatan membela !

Dendamku menghujat keadaan !

Dari mana datangnya masa kini,

kalau bukan hasil pengorbanan,

jiwa raga masa lalu !

Amarahku membara !

Aku bukan seperti kamu duga, aku bukan peminta-minta !

Pejuang sejati pantang sebagai peminta,

tak berpamrih, sebab darah diperjuangkan

buat Tuhan dan Negara !

Apa artinya berminta

bila timbul fitnah !

Lebih baik kujual barang bekas

dari pada aku jadi penindas!

Apa hebatnya uang rakyat digilas,

bila harga diri terhempas !

Puiiih !

Kalau ada mantan pejuang

gemar menumpuk harta,

benarkah jiwanya pejuang ?!

Mantan pejuang sejati, bukan petinggi harga gengsi,

menciptakan kesenjangan, membuang hakekat kehidupan !

Wow !

Modal asing semakin berkilau cahaya !

Merekah warna bunganya !

Anak terama jahat pada emak, emak ditelan dalam kelojotan,

Malin Kundang dianggap bualan !

Para rentenir nan jauh di sana, asyik berpesta dansa

di atas cerita luka !

Siapa yang dijadikan sumber musibah?

Mantan pejuangkah ?

Lihatlah kawan !

Wajah negeri banyak perubahan,

tapi rakyat jelata masih terjepit kekalutan,

karena keadaan ekonomi ada yang di langit

dan ada yang masih teronggok di bumi !

Bagaimana ini ?!

Sebagian uang pembangunan

Menyasar ke kaum sialan

tak hiraukan kondisi ekonomi negara dalam pembenahan,

Berita memalukan menjadi tamu media massa

Semua berebut mencuri kesempatan,

menangguk keuntungan,

negeri terhina dibiarkan

Aku menistakan kecerobohan !

Di mana arti keringat para pejuang ?!

Kalau hanya dijadikan tumbal kekayaan

bagi kawanan mahluk haus harta !

Akulah di situa mantan pejuang terlunta,

merenung di kal keruh, sesak rasa di dada, tak berujung

dan tak berpangkal !

Di langit mendung tebal berarak,

Dipendam lagi duka untuk kesekian kalinya.

Ia basuh sepasang kaki perunggu dengan airmata,

ia sigap member hormat untuk yang kedua,

lalu bermohon pamit

Setelah lega hatinya

pergilah ia.

Di antara debu kemarau

tertatih ia menyusuri taman kota

sewaktu hendak menyeberang jalan,

tiba-tiba disambar motor larinya kencang

kakek tua terjungkal, ambruk menelungkup,

Mulut dan telinga menetes darah, sekarat,

dan sekejap sirnalah sang nyawa !

Orang-orang merubung

Kilat kamera saling membentur

Para kuli tinta sibuk mencatat

Para reporter layar kaca sibuk bergaya,

Para petugas dibikin pusing

karena masyarakat susah diatur

Jalan raya semakin sarat isinya.

Di antara bau amis darah,

Terdengar menyentak suara sirine meraung,

orang-orang membauyar member jalan

Mayat lelaki tua dibawa pergi,

jalan raya aktif kembali.

Malam semakin menggelantung

Di rumah sakit, mayat lelaki renta

Dibiarkan tergeletak tanpa identitas,

Makin beku jadi penghuni peti salju

hingga hilang kabar tak terbilang

Patung pejuang

memang biasa terbungkam

lantaran ia hanya perunggu

di taman kota sebagai

penunggu


TAGS Sajak Dua Pejuang Bambang Oeban Trologi Kepada Presiden Ter.. patung perunggu


-

Author

Follow Me