Mengenang Pertempuran Sidobunder 2 September 1947

29 Jul 2011

djokowoerjo-sastradipradja
Oleh: Djokowoerjo Sastradipraja; Prof. Dr; drh;

Pengantar

Pertempuran Sidobunder tercatat sebagai salah satu pengalaman kontak senjata dengan Belanda yang meminta korban anggota Tentara Pelajar Yogyakarta. Kisah pertempuran ini dimuat dalam buku Peran Pelajar dalam Perang Kemerdekaan diterbitkan oleh Pusat Sejarah dan Tradisi Angkatan Bersenjata R.I, cetakan I 1985. Meski sudah didokumentasikan secara formal terasa bahwa banyak kejadian rinci yang belum terungkap dank arena itu dari para pelaku yang saat ini masih dalam keadaan sehat jiwa raga atas berkat karunia Tuhan Yang Mahaesa diharapkan dapat mengumpulkan memoir tertulis guna melengkapi dokumentasi mengenai partisipasi pelajar dalam perjuangan fisik. (biografi beliau saya kumpulkan di bagian lain Toto Karyanto).

Menempati Posisi Pertahanan di Sidobunder

Seksi kami mendapat tugas menggantikan Seksi Soedewo di front. Menjelang akhir bulan Agustus pasukan pindah dari Kebumen naik kereta api ke Karanganyar dan menginap semalam di beberapa rumah sebelah Timur alun-alun Kabupaten yang letaknya tidak jauh dari stasiun. Sore hari saya mandi di kompleks nDalem Kabupaten dan sempat melihat-lihat sekeliling kabupaten serta alun-alun itu. Pada saat di Karangayar itu baru saya ketahui bahwa kedudukan front kami adalah di Selatan yaitu di desa Sugihwaras yang jauhnya sekitar 10km dari kota.

Dari anggota TP kompi 320 yang ada di Karanganyar hanyalah komandan kompi dan stafnya saja. Sedangkan Seksi Soedewo ada di Sugihwaras. Pimpinan kompi dan staf menceritakan bahwa Karanganyar pernah diserang oleh Belanda sampai di sebelah Barat alun-alun dan sempat terjadi kontak senjata sebelum musuh mundur kembali kea rah Gombong. Esok harinya, pagi-pagi sekitar pukul 6, seksi kami telah berangkat kea rah Selatan dengan terlebih dulu menyeberangi jalan kereta api di stasiun. Kebanyakan kami tidak membawa senjata karena senapan-senapan telah dibawa Soedewo yang ada di front. Gerakan pasukan tidak mengikuti barisan yang teratur, melainkan masing-masing berjalan sendiri-sendiri ayau bergerombol sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Seperti halnya juga di Kotabaru, Wates atau Kebumen, koleksi nyanyian kami tidak hanya lagu perjuangan, tetapi juga lagu-lagu asing seperti My bonny is over the ocean dll. Malahan di antara nyanyian yang dinyanyikan itu termasuk juga nyanyian Belanda yang sewaktu jaman penjajahab kami pelajari dari buku Kunt je nog zingen, zing dan mee. Kedengarannya aneh, tetapi mengingat bahwa cukup banyak di antara kami itu dulu mengecap pendidikan Sekolah Dasar HIS atau ELS, dan di antara kamipun kadang-kadang melakukan percakapan antara sesame dengan bahasa Belanda. Jago penggembira nyanyi adalah Djokonomo. Dalam gerakan itu sama sekali tidak tercermin rasa takut dan semuanya terasa aman-aman saja meskipun kami melihat kea rah Barat dan membayangkan bahwa di sana sudah daerah yang dikuasai Belanda. Rakyat yang kami jumpai nampaknya seperti hidup dalam suasana damai saja. Dan dari mereka diperoleh informasi bahwa tidak ada Belanda saat itu di daerah mereka. Seingat saya tanggal itu adalah 29 Agustus (1947-pen).

Seksi Anggoro sampai di kediaman Pak Lurah Sugihwaras sekitar pukul 11 siang. Seksi Soedewo yang akan kami gantikan sebagian sudah siap tetapi sebagian lainnya masih belum kembali dari patrol. Sambil berbincang-bincang dan mendengarkan pengalaman anggota Seksi 322 tentang tugas di front ini, kami menikmati pembagian nasi bungkus (dengan daun pisang), santapan siang yang lauknya daging kambing gulai dengan kuahnya. Menu ini ternyata sama setiap siang dan petang. Kami selalu mendapat kiriman bungkusan ini (tentunya dari dapur umum) yang dibawa oleh tobang dalam keranjang besar. Kami yang baru datang tentu saja ingin tahu pengalaman serangan Belanda, kapan terjadi dan bagaimana cara melawannya. Kami juga tertarik mendengarkan bahwa pasukan Indonesia cukup banyak yaitu sejumlah kekuatan tangguh BPRI dan satu seksi pasukan India (asal tentara Inggris) yang memihak Indonesia.

Di sebelah Utara dan Timur ada pertahanan pasukan AOI (Hizbullah). Ada juga sekelompok kecil pasukan TNI di sebalah Barat. Di daerah itu juga ada seorang Jepang eks tentara Jepang yang memihak Indonesia. Ia dianggap sangat berpengalaman perang dan saya merasa aman karena pertahanan kami cukup kuat. Pak Lurah Sugihwaras sangat tinggi semangat perjuangannya yang sangat kami kagumi dan dia akrab dengan kami para pelajar pejuang. Suatu kali ia memuji pasukan India, tetapi tak lupa juga menceritakan terjadinya insiden asmara antara salah satu anggota pasukan itu dengan Marina gadis setempat. Pak Lurah memiliki gamelan dan saya sempat menabuh gambang dan kendang. Ridwan, penembak brend, mengomentari kemahiran saya menabuh gambang.

Sementara kami sibuk mencari ambilan oper senapan dari kawan-kawan yang digantikan. Saya memperoleh senapan karaben laras pendek (tanpa sangkur) tetapi tidak kebagian kantong atau sabuk peluru. Pada siang hari, yang berpatroli sudah kembali ke Sugihwaras dan menceritakan bahwa mereka sampai Karangbolong dan melihat beberapa serdadu Belanda tengah mandi di laut. Regu patroli sempat meletuskan beberapa kali tembakan dan mereka mengingatkan juga hahwa saat itu menjelang koninginnedag hari lahir Ratu Wilhelmina. Mereka menyarankan untuk mengganggu Belanda pada hari 31 Agustus itu. Pada sore hari, seksi 322 meninggalkan Sugihwaras kembali ke markas di Karanganyar.

Hari 30 Agustus pagi, saya bertugas ikut regu patroli sejumlah 5 6 orang bersama tentara Jepang tadi. Tujuannya ke Desa Sidobunder untuk memeriksa medan yang akan menjadi posisi daerah pertahanan seksi. Sewaktu berpatroli kami mendiskusikan cara berpatroli model Jepang dan Inggris. Kami kemudian memperagakan cara berpatroli India yaitu regu bergerak dalam satu kelompok, seorang yang berada di barisan terdepan menghadap lurus ke depan, diikuti anggota lain di kiri dan kanan (semacam posisi zig-zag- pen). Dan anggota yang berada di posisi paling belakang berjalan mundur menatap luruh arah belakang barisan itu. Patroli hanya sampai bagian Barat Sidobunder. Jadi hanya berjarak sekitar 2 km saja. Suasanya sepi dan kalaupun bertemu orang hanya ada laki-laki yang semunya gundul. Siang hari, kami sudah kembali ke Sugihwaras. Sore dan malam hari kami beristirahat dan berjaga di rumah pak Lurah yang dijadikan markas.

Keesokan hari, 31 Agustus pagi, kami diperkuat dengan tambahan satu regu patroli. Tetapi saya tidak ikut berpatroli. Kabarnya mereka berpatroli lebih jauh lagi ke daerah niemandsland dan siang sudah kembali ke markas. Pada saat itu, sekitar jam 4 sore, seluruh seksi dipindahkan mengambil posisi pertahanan di Desa Sidobunder. Penempatan juki dikelola oleh teman-teman dari Perpis (Persatuan Pelajar Indonesia Sulawesi pen) di bagian Timur sungai dekat pos TNI regular. Brend (Ridwan) mengambil posisi di kanan menghadap arah Barat Daya. Saya dan beberapa teman bersenjatakan karaben dan standgun buatan Demak Ijo mengambil posisi sekitar markas yang letaknya di sisi Utara jalan utama. Tetapi kami sering mondar mandir menyusuri jalan utama dan menyambangi posisi regu yang memegang juki sampai ke batas desa yang menghadap arah Sugihwaras. Bersama Rinanto, saya mendapat giliran jaga malam sekitar pukul 2 3 pagi.

Tanggal 1 September pagi dikirim satu regu yang salah satu anggotanya adalah Poernomo. Teman ini pernah menceritakan pengalaman menolong seorang wanita yang akan melahirkan bayinya. Sejak siang sampai malam, hujan terus turun dan membuat daerah di sekitar pertahanan kami becek serta sawah-sawah terendam air cukup dalam. Kami berjaga di dalam markas dan emperan rumah-rumah penduduk. Berteduh dan menunggu teman-teman kembali dari berpatroli. Ternyata mereka baru kembali sekitar jam 9 malam dan segera menceritakan hasil pantauannya. Mereka bilang kalau pasukan India telah mundur dari posisi pertahanan awal. Juga pasukan BPRI telah meninggalkan posnya di Puring. Sehingga daerah itu sampai Karangbolong menjadi kosong pasukan pertahanan. Ada indikasi bahwa Belanda akan segera bergerak. Informasi bahwa iring-iringan pasukan Belanda telah meninggalkan Gombong ke arah Selatan sudah kami terima. Karena itu, situasi ini kami anggap cukup serius. Tetapi kami bersikap menunggu sampai pagi dan baru mengambil tindakan. Di sela suasana serius itu, ada sebagian teman yang bercanda tawa dengan kelakar khas pelajar menjelang usia dewasa. Keadaan semacam ini belum pernah terjadi dalam tugas, karena itu terasa aneh. Dan selalu ada teman yang akan mengingatkan ketika sudah berlebihan dengan ucapan awas mati konyol yang terbukti sangat mujarab.

Pertempuran Sidobunder

Tanggal 2 September adalah hari yang ternyata amat menyedihkan bagi seksi kami. Setelah semalam suntuk diguyur hujan dan diisi dengan canda tawa untuk membunuh waktu, pagi-pagi sekali di antara tidur lelap kami, hujan peluru membangunkan dan mulai dirasakan di sebelah Timur. Dalam sekejap, semua anggota pasukan menempati posisi bertahan di tempat masing-masing. Regu kami, termasuk komandan kompi Anggoro, menempati posisi di ladang kecil seberang jalan di depan markas. Kami stelling menghadap arah Selatan dan Timur. Saya stelling denagn cara menelungkupkan badan dan menghadap Selatan. Iman Sukotjo ada di sebelah kanan posisi saya. Sebagai komandan, Anggoro bergerak mobil mengatur posisi dan ia mendapat laporan berbagai posisi dari anggota seksi lainnya. Saya bilang kepada Imam Sukotjo bahwa isi karaben senapan saya tinggal 2 butir.

Biografi ringkas penulis:

  1. Prof.Dr.drh. Djokowoerjo Sastradipraja adalah pelajar SMA Kotabaru (padmanaba) yang pernah mengenyam latihan dasar kemiliteran di MA Kotabaru saat bergabung dalam pasukan pelajar pejuang kemerdekaan dari Yogyakarta. Front Barat di sekitar Gombong bagian Selatan adalah penugasan pertama di luar Yogyakarta dan sekitarnya bersama sejumlah besar pasukan pelajar yang dikerahkan dari Markas Pusat di Tugu Kulon pada akhir Agustus sampai awal September 1947. Mengaku ikut singgah dan bermalam di asrama markas darurat pelajar pejuang kemerdekaan di kompleks GKJ Kebumen sebelum diberangkatkan ke medan laga.
  2. Dosen, guru besar serta mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
  3. Anggota AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia)



TAGS Kenangan pertempuran Front Barat Sidobunder 2 September 1947 Djokowoerjo


-

Author

Follow Me