Mengenang Pertempuran Sidobunder 2 September 1947 Oleh: Djokowoerjo Sastradipraja; Prof. Dr; drh; (lanjutan)

4 Oct 2011

Ia memberi saya tambahan 5 butir peluru dengan komentar mengapa tak meminta tambahan dua hari sebelumnya di markas Karanganyar saya ada pembagian logistik. Saya tak tahu ada pembagian itu. Meskipun saat itu saya menyadari kami sudah terkepung, namun saya membayangkan bahwa kami akan mampu bertahan karena adanya senjata brend dan juki. Sambil menanti peristiwa yang akan terjadi, kami sempat berbincang tentang adanya 2 orang yang menanyakan keberadaan markas di pagi sekali karena mereka memerlukan surat jalan. Setelah kami merangkai beragam kejadian dan adanya serangan yang tengah kami hadapi saat ini, akhirnya berujug pada kesimpulan bahwa mereka adalah mata-mata musuh.

Sesaat waktu terdengar tembakan brendgun dari arah Timur yang semakin gencar dan mendekat. Pasukan Belanda mulai menghujani kami dengan tembakan mortir, tapi mengenai sisi Barat posisi kami. Sementara itu, kebun kecil yang menjadi tempat pertahanan kami luput dari sasaran tembak itu. Tembakan brendgun musuh kian mendekat dan mendapat balasan dari pasukan kami. Sesaat kemudian, terdengar tembakan gencar dari arah Barat. Saya yang semula mengira tembakan balasan berasal dari pasukan kami, sesaat kemudian muncul teman-teman dari Perpis dari arah Barat. Mereka memberitahu kalau juki-nya macet, tak dapat dipakai untuk membalas serangan musuh. Kami sadar bahwa sebenarnya pertahanan pasukan kami telah terkepung oleh pasukan musuh. Dan suara tembakan balasan itu berasal dari brendgun Ridwan. Peluru senjata otomatis itu dirangkai menjadi rantai panjang tidak seperti bahan kain untu mitrallieur watermantel. Tapi dibentuk serupa vlinder (kupu-kupu). Saya perkiraan saat itu sekitar jam 7 pagi.

Komandan Anggoro memerintahkan kami bergerak untuk meloloskan diri dari kepungan pasukan musuh. Senapan Juki yang macet dilepas dari alat penggotongnya dan larasnya dipisahkan untuk diselamatkan. Dalam mencari jalan keluar dari kepungan musuh, ternyata pasukan kami terpecah menjadi dua rombongan. Sebagian bergerak ke arah Barat Daya dan sisanya ke Selatan. Saya mengikuti pasukan yang ke arah Selatan. Sebenarnya saya merasa janggal mengikuti pasukan yang ke Selatan karena diperkirakan posisi serangan pasukan Belanda dari arah Selatan dan Timur. Selain itu, saya tak mengenal medan itu karena tak pernah berpatroli ke arah itu. Karena sudah terlanjur mengikuti teman-teman, kami akan lihat dan rasakan perkembangan situasinya.

Kami bergerak di persawahan yang becek setelah diguyur hujan semalaman. Berjalan satu per satu di pematang sawah yang sempit itu. Seingat saya, posisi saya ada di urutan terbelakang dengan bertelanjang kaki. Sementara itu, sepatu lars pembagian justru saya gantungkan di leher. Di pundak ada tas berisi pakaian ganti. Di depan saya adalah Soepadi atau Abunandir, saya lupa hal itu. Mereka berdua adalah sahabat karib. Sesekali masih terdengar suara tembakan pasukan Belanda dari Selatan dan serpihan pelurunya jatuh di depan kami seperti suara batu-batu kecil yang berjatuhan. Saat itu saya jadi ingat pelajaran mekanika tentang arah lintasan peluru. Dan desing peluru pasukan Belanda seperti praktikum pelajaran mekanika itu.

Tiba-tiba terdengar tembakan musuh dari depan dan jarak yang sang sangat dekat. Kami segera berpencar, bergerak maju menyeberang sungai lewat jembatan bambu dan masuk ke sawah. Saya melakukan hal sama dan ternyata telah berada di pinggir Selatan sungai itu. Sejenak saya merasa tak tahu harus berbuat apa karena serdadu Belanda telah nampak di batas sawah (Selatan) dalam jarak kurang sari 100m. Entah dari mana datangnya, Linus Djentamat dari Perpis telah berdiri membawa senapan juki kami yang macet. Segera saja saya mendekat dan ia meminta saya untuk bantu menyeberangkan juki ke sisi Utara sungai itu. Linus lebih tua beberapa tahun dari umur saya. Secara naluriah, saya memang harus bersamanya menyelamatkan senjata itu. Peristiwa ini sangat menentukan hidup saya saat itu dan selanjutnya. Karena, dalam latihan kemiliteran yang pernah saya lakukan, selalu ditanamkan bahwa senjata itu sama nilainya dengan nyawa kita. Adalah kesalahan besar jika senjata kita sampai jatuh ke tangan musuh. Jadi, juki ini harus diselamatkan dan menjadi tugas yang sangat penting.

Saya masuk ke sungai yang airnya sebatas dada dan menerima juki dari Linus yang kemudian saya angkat dengan kedua tangan untuk diseberangkan. Linus menyusul segara dan membawakan karaben saya. Sesampai di sisi Utara, kami bertukar senjata dan menyadari bahwa kami terpisah dari rombongan pasukan. Tak lagi sempat berpikir lebih jauh karena suara tembakan dari arah sawah terdengar semakin gencar. Linus bercerita pengalamannya 3 kali dikepung musuh. Berdasar pengalaman yang ia rasakan, pasukan Belanda tidak akan menduduki daerah yang diserang. Melainkan hanya sambil lalu, melakukan pembersihan dalam menuju pos pertahanan mereka. Ia usul agar kami bersembunyi untuk menyelamatkan juki itu. Semula saya ragu dan ingin menolak usulan Linus. Kenapa tak bertempur sampai titik darah penghabisan saja?

Agak masuk ke dalam desa, sekitar 15 m dari sungai terdapat sebuah rumah bambu menghadap ke SeLatan dengan pintu sleregan (sliding door ). Di depan rumah itu ada sebuah gubug kecil dari bilik bambu dan ternyata adalah ruangan tunggal berukuran 3 x 3m dengan pintu selregan juga yang menghadap ke rumah tadi. Linus mengajak saya memasuki gubug kecil itu. Kami mendapati bale-bale bambu sederhana di pojok Tenggara ruangan itu. Linus bilang agar kami bersembunyi di bawah kolong bale-bale. Ia masuk duluan, bertelungkup merapat ke dinding dengan juki-nya. Kepalanya menghadap ke Timur. Saya menyusul dan berbaring di sebelahnya dalam posisi berlawanan arah. Senjata karaben saya depan dalam posisi siap tembak ke arah pintu.

Tak lama berselang, desa itu dihujani peluru mortir yang semula terdengar jatuh di sisi Selatan sungai. Dan dentuman granat serta mortir berjauhan di sisi Timur, Barat dan Utara gubug. Serpihannya terdengar jatuh sangat dekat dengan posisi kami. Setelah hujan tembakan mortir mereda, terdengar suara rentetan bunyi tembakan brendgun yang kian mendekat. Sering terdengar suara pohon bambu bertumbangan dihajar oleh rentetan tembakan peluru brendgun itu. Sesaat kemudian terdengar suara dalam Bahasa Belanda agar kami menyerah. Opgeven jongens! beberapa kali.

Pasukan Belanda nampaknya memang telah menguasai desa itu. Tapi tak ada suara mengaduh atau erang kesakitan dari teman-teman sepasukan. Kesimpulan saya, kami berdua terpisah dari pasukan. Sesaat kemudian, terdengar pasukan Belanda mendekat gubug kami di arah Selatan, Timur dan Barat dinding. Ada yang hanya berjarak setengah meter, tapi tak ada yang melintas di antara rumah dam gubug. Dari percakapan mereka, ternyata tidak semua pasukan Belanda adalah orang Belanda atau Barat. Tapi ada juga yang memakai dialek lokal atau bukan Belanda. Selang beberapa saat, terdengar pasukan Belanda menjauh dari posisi kami ke Utara dan Timur. Hal itu terdengar dari bunyi tembakan yang mereka muntahkan. Lalu suasana menjadi sangat hening. Suara kokok ayam jago menjadi suara terindah pertama yang kami dengar. Sehingga cukup lama berselang, kami tetap bertahan dalam posisi berdiam diri dan siaga.

Menjelang tengah hari, Linus mengajak saya beranjak dari tempat persembunyian. Linus menyuruh saya memeriksa keadaan di luar. Dengan menguatkan hati, saya memberanikan diri menuju rumah di depan gubug dan memeriksanya secara saksama. Ternyata rumah itu kosong dan saya segera kembali ke gubug melapor semua hal yang saya ketahui. Lalu, Linus gantian ke luar dan saya masuk kembali ke gubug untuk menjaga juki itu. Kepergian Linus cukup lama dan membuat saya menjadi was-was. Sesaat berikutnya terdengar suara orang desa itu disusul oleh suara Linus. Ia berbicara dalam Bahasa Jawa kromo. Sementara Linus memakai bahasa ngoko. Segera saja saya keluar dan bergabung dengan mereka. Penduduk desa itu adalah lelaki dewasa berkepala pelontos. Di saat itu, barulah saya tahu bahwa posisi persembunyian kami ada di Desa Bumirejo. Dari desa ini ada jalan yang mudah dilalui melalui Desa Sugihwaras ke arah Puring.

Oleh penduduk desa itu kami diajak melihat para korban pertempuran. Senapan juki kami tinggal di gubug. Kami dibawa ke tepi sungai. Teman pertama yang kami jumpai adalah Hary Suryoharyono, komandan regu saya yang terbaring di sisi Utara sungai. Tubuhnya utuh dan sangat tampan-atletis seperti orang tengah tidur saja. Luka di kepalanya menembus telinga kiri. Kepada penduduk, saya katakan bahwa yang gugur itu adalah calon pemimpin bangsa. Oleh karena itu, saya minta agar mereka membawa jenasah Hary ke Karanganyar sebagai markas komando terdekat. Tak jauh dari tempat Hary, kami menemukan jenasah Willy Hutaoeroek dari Perpis dalam posisi tertelungkup. Linus yang Katholik membawa tasbih rosario berjongkok dan berdoa sejenak. Informasi terakhir yang saya tahu, jenasah Hary dibawa ke Kebumen. Sementara itu, jenasah Willy Hotaoeroek dimakamkan di desa Bumirejo.

Kemudian kami dibawa ke sebuah lumbung padi yang agak jauh dari sungai. Di sana ada Alex Rumamby dari Perpis yang terluka di bagian perutnya. Linus naik ke lumbung memberi penghiburan dan semangat agar Alex bertahan dan akan segera mengurus proses evakuasi serta pengobatannya. Kami juga meminta kepada penduduk desa itu untuk membawanya ke Karanganyar. Selain itu, penduduk juga menemukan seorang rekan yang dalam posisi telungkup di sawah. Mereka membangunkan dengan mengatakan bahwa Belanda telah pergi serta memberi sarung untuk ganti pakaian yang dikenakannya. Teman kami disembunyikan karena wajahnya sembab diinjak-injak oleh serdadu Belanda yang menyangkanya telah tewas. Semula saya tak tahu siapa teman kami itu, Baru keesokan harinya saya mengenalnya. Ia sahabat karib dan teman sebangku, Imam Sukotjo.

Setelah tak ada hal penting lagi yang perlu diurus dan waktu sudah sekitar jam 2 siang, kami memutuskan untuk menujua Karanganyar bergabung dengan induk pasukan. Untuk itu ada beberapa masalah yang perlu kami pecahkan, Kami tak memiliki informasi apapun tentang keberadaan pasukan Belanda di daerah pertempuran di sepanjang jalan yang akan kami lewati sehingga kami dapat menjaga jembatan atau check point tertentu. Berikutnya adalah masalah baju hijau yang kami pakai serta potongan rambut yang tidak plontos seperti kebanyakan penduduk setempat tentu akan memudahkan serdadu Belanda mengenali kami sebagai pejuang/ Tentara Pelajar. Kedua masalah ini cukup mudah diatasi. Baju masuk tas dan rambut dicukur plontos.

Tapi ada hal lain yang merisaukan yaitu keberadaan laskar AOI yang kami tahu sering meminta senjata pasukan yang tengah mundur dari medan pertempuran yang ada di lini kedua. Senjata adalah nyawa cadangan, menyerahkan senjata berarti sama dengan menyerahkan nyawa. Akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan juki dan mempercayakannya kepada penduduk setempat. Dengan janji kami akan kembali secepat mungkin mengambil senjata itu. Atas keputusam itu, kami segera meninggalan Desa Bumirejo menuju markas induk di Karanganyar lewat Desa Sugihwaras melalui jalur sungai melawan arus ke Timur dengan cara berjalan jongkok. Mendekati jembatan, kami mempelajari situasi untuk memastikan ada tidaknya pasukan Belanda. Ternyata kosong dan kami bersiap diri melewati daerah yang dikuasai AOI sekitar 300m di depan kami.

Benar saja dugaan kami, ada sekitar 300 anggota laskar AOI yang telah mengetahui keberadaan kami. Senjata mereka berupa senapan dan panah yang anak panahnya berdetonator. Sesampai di tempat mereka berjaga, kami segera naik (di sisi Utara) dan lagi-lagi semua gerakan kami sang pemimpin adalah Linus. Ia lalu menjelaskan peristiwa yang kami alami dalam bahasa Jawa ngoko. Saya sesekali menambahkan penjelasan dalam Bahasa Jawa madya. Seperti telah kami duga, pertanyaan mereka adalah tentang senjata kami. Kami jelaskan bahwa semua senjata dibuang di medan pertempuran karena macet atau habis peluru. Entah diterima atau tidak penjelasan itu, kami akhirnya dibawa ke markas mereka di sebuah masjid yang berjarak sekitar 100m dari posisi saat ini. Di sana kami disuruh beristirahat dan diberi nasi bungkus. Kebanyakan tidak kami makan karena tiada lagi nafsu makan.

Waktu itu sudah memasuki waktu shalat Ashar. Kami ingin sesegera mungkin menuju Karanganyar ke markas induk. Kebetulan di situ ada kurir yang bergerak menunggang kuda. Kurir itu rupanya habis menyelesaikan tugasnya dan akan kembali bertugas ke Utara. Tak lama berselang, kami diijinkan meneruskan perjalanan dengan bertelanjang dada, tanpa alas kaki dan hanya bercelana pendek. Rasanya kami telah berjalan cukup jauh tanpa was-was bertemu pasukan Belanda karena sudah mencapai daerah aman. Sekitar jam 5 sore di kejauhan kami melihat sekelompok orang berkerumun seakan menantikan kedatangan kami. Benar saja, setelah mendekat ternyata mereka adalah teman-teman kami yang mundur melalui sisi Utara dan Timur. Bukan main rasa sukacita kami bertemu dalam keadaan selamat. Kami saling merangkul dan mengucap syukur. Setelah beberapa saat, kami melanjutkan perjalan di kegelapan malam. Sekitar jam 8 malam, kami tiba di markas yang letaknya di sebelah Timur alun-alun Karanganyar. Sebagian diantara kami langsung mencari tempat untuk beristirahat. Sebagian lainnya jalan jalan di sekitar markas dan minum kopi serta makan makanan kecil.

Tak diduga, di warung itu saya bertemu Komanda Kompi Saroso Hoerip dan beberapa stafnya. Kami saling menyapa dan diminta bercerita tentang pertistiwa yang kami alami. Saya juga melaporkan keberadaan juki yang ditinggal dan dipercayakan kepada penduduk Desa Bumirejo. Secara ringkas kami melaporkan semua kejadian. Atas hal itu, komandan memberi pujian. Di akhir percakapan kami, komandan kompi memerintahkan kami untuk menyertai regu yang akan dikirim untuk mengambil jenasah dan khusus bagi bagi perintah memandu pengambilan juki. Perintah itu saya terima dengan ihlas. Saya sadar bahwa upaya penyelamatan senjata juki adalah kebanggaan kompi kami dan merupakan sebuah tugas penting. gambar-tp-di-lokasi-perang-ippnos


TAGS Tentara Pelajar Kenangan pertempuran Front Barat Sidobunder


-

Author

Follow Me