Mengenang Pertempuran Sidobunder 2 September 1947 (selesai) Oleh: Djokowoerjo Sastradipraja; Prof. Dr; drh;

4 Oct 2011

Mengambil Jenasah dan Menyelamatan (Senapan) Juki

Keesokan hari, tanggal 3 September 1947, sekitar puku 5.30 pagi diberangkatkan satu regu dari markas induk Karanganyar untuk mengambil jenasah dan senapan juki yang kami tinggalkan di Bumirejo sehari sebelumnya. Regu ini terdiri dari 10 orang, sebagian besar adalah teman-teman yang kami gantikan tugasnya di Desa Sugihwaras. Satu diantaranya adalah Wiratno. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan Alex Rumambi yang diangkut dengan usungan bambu oleh beberapa penduduk Desa Bumirejo. Kami sempat diberitahu bahwa semua jenasah yang ada di sana telah dibawa ke Kebumen.

Setelah beristia\rahat sejenak di Desa Sugihwaras, regu ini dibagi dua. Oleh kepala regu saya diperintahkan ke Selatan menuju Desa Bumirejo bersama 4 orang teman. Tugas utama adalah menyelamatkan juki dan senjata-senjata lainnya. Kelompok lain menuju Desa Sidobunder untuk menolong korban pertempuran dan mengambil jenasah rekan-rekan yang gugur di sana. Sekitar jam 11 kami berangkat ke Bumirejo yang ternyata hanya berjarak 3 km dari Sugihwaras. Sampai di tujuan, suasana desa cukup sepi. Ada beberapa penduduk yang dapat kami tanyai tentang keberadaan juki yang kami titipkan kepada mereka. Mereka menjawab, bahwa semua senjata disimpan dengan baik. Juga teman kami yang wajahnya diinjak serdadu Belanda ( Imam Sukoco-pen) telah dipindahkan ke garis belakang. Saya menyampaikan terima kasih kepada mereka yang telah dengan tulus memenuhi permintaan kami sehari sebelumnya.

Pada kesempatan itu, kami juga diajak melihat beberapa korban meninggal dan luka dari penduduk Desa Bumirejo. Seorang korban luka adalah gadis kecil yang mengalami luka lebar di bagian paha dan selalu mengerang kesakitan. Kebetulan, seorang anggota regu kami membawa obat. Ia segera memberi pertolongan dan membalut luka sang gadis kecil. Tak lupa ia menyarankan agar gadis ini segera dibawa ke RS Karanganyar untuk mendapatkan perawatan selanjutnya. Setelah menerima kembali juki dan karaben yang saya titipkan kepada penduduk serta menerima penyerahan sekitar 200 butir peluru Lee Enfield yang ditinggalkan serdadu Belanda di sebuah rumpun bambu serta memastikan bahwa semua korban dari TP telah ditangani dengan baik, kami pamit dan segera kembali ke Sugihwaras dengan perasaan lega karena tugas dapat dilaksanakan dengan baik.

Kami tiba di Sugihwaras sekitar pukul 2 siang dan menunggu kedatangan rombongan yang ditugaskan ke Sidobunder. Hampir dua jam kemudian terdengar suara mereka bersama pak Lurah dan penduduk desa. Ternyata mereka membawa jenasah teman-teman kami yang diangkut dengan perahu-perahu kecil berisi 3 4 jenasah setiap perahu. Saya mengenali jenasah anggota TP. Ada juga 2 jenasah anggota TNI reguler. Rekan kami, Ridwan, terkena 3 tembakan di leher yang menembus ke rongga dada. Hapto yang beru berumur 14 tahun dan sering bersama saya berjaga di markas Wates terluka bacokan di wajah sekitar daerah hidung. Saya sangat mengenali jenasah Pramono, Djokopramono, Soegiyono, Poernomo dan kalau tidak salah ada juga jenasah Achmadi. Hanya itu yang dapat ditemukan (yang dibawa ke Kebumen dari Bumirejo hanya jenasah Soerjoharyono, sehingga jenasah Willy Hutaoeroek tetap dimakamkan di Bumirejo. Di kemudian hari juga diketahui bahwa Herman Fernandez ditangkap dan dihukum mati oleh Belanda. Mungkin ada teman lain yang tertangkap, nyatanya sampai kini tak ada yang kembali).

Pak Lurah memerintahkan warganya agar segera membuat usungan dari bambu yang banyak tumbuh di desa itu. Setiap usungan hanya diisi dengan satu jenasah, ditutup daun pisang dan diikat dengan tali bambu. Setelah semua siap, semua jenasah segera dibawa ke Karanganyar. Kesediaan penduduk desa membantu kami mengurus dan mengusung jenasan teman-teman yang gugur secara ihlas sangat kami rasakan. Meski, karena faktor usia, saya belum mampu menangkap makna dari peristiwa itu, tapi saya dapat merasakan kebanggaan atas bantuan penduduk desa yang tanpa pamrih itu.

Perjalanan dari Sugihwaras ke Karanganyar dimulai sekitar jam 5 sore dan dalam menembus kegelapan malam kami menggunakan obor yang disediakan oleh penduduk setempat. Karena jarak cukup jauh, perjalanan jenasah itu dilakukan secara estafet oleh penduduk desa-desa di sepanjang jalan yang kami lewati. Dua jenasah TNI reguler dibawa ke markas induknya, bukan ke Karanganyar. Sekitar jam 8 malam lewat, rombongan pembawa jenasah akhirnya sampai di Karanganyar dan langsung dibawa ke rumah sakit. Diterangi beberapa batang lilin, jenasah-jenasah itu disemayamkan di salah satu bangsal rumah sakit. Di situ telah menunggu beberapa teman yang selamat dalam pertempuran, seorang di antaranya adalah Rinanto sahabat karib saya. Saya mendapat perintah untuk ikut mengiringi jenasah yang akan dibawa ke Yogyakarta dengan kereta api.

Setelah makan nasi bungkus di kompleks rumah sakit, mandi ala kadarnya dan mengambil tas pakaian di asrama markas induk, saya segera kembali ke rumah sakit. Semua jenasah kemudian dibawa ke stasiun dan ditempatkan di gerbong khusus. Sekitar jam 10 malam kami berangkat ke Yogyakarta dalam temaram cahaya lilin. Kereta berhenti di stasiun Kebumen untuk mengangkut anggota seki Anggoro yang akan diistirahatkan di sana. Dan jenasah Soejoharyono yang sudah menunggu di situ bersama rombongan akhirnya disatukan dengan jenasah lain dalam gerbong khusus. Kereta berhenti agak lama dan saya menyempatkan diri menengok asrama kami di gereja protestan (GKJ-pen) itu.

Kereta api diberangkatkan dari Kebumen antara jam 11 12 malam. Malam yang sepi dan hening membuat banyak rekan kami tertidur. Saya tak dapat tidur, dan sesekali menuju gerbong jenasah yang tanpa rasa takut karena mereka adalah rekan-rekan seperjuangan yang ditakdirkan gugur mendului kami. Sekitar jam 4 pagi kereta sampai di stasiun Tugu. Sementara menunggu jemputan yang akan membawa kami ke Jetis (asrama SGA), datang perintah kepasa saya agar mengiringi jenasah ke RS Bethesda untuk membantu dan mengenali para jenasah. Memang benar bahwa patugas penerima jenasah belum tentu mengenali para korban pertempuran Sidobunder dan sayalah yang dianggap lebih tahu ciri-ciri mereka.

Tugas di RD Bethesda dapat saya laksanakan dengan baik di antaranya membantu kakak Djoko Pramono mengenali jenasah adiknya. Beliau menangis setelah membuka daun pisah yang menutupi tubuh jenasah adiknya. Jam 6 pagi saya ikut kendaraan menuju asrama SGA di Jetis untuk bergabung dengan rekan-rekan. Sekitar jam 9 pagi ada pengumuman yang membolehkan kami pulang ke rumah masing-masing dan diberi cuti selama 2 minggu. Bersama Sarbidu yang terhitung sebagai paman Soehapto yang gugur dan dua teman lain, kami naik delman ke Pakualaman tempat kami tinggal. Sampai di rumah sekitar jam 10. Berita kedatangan saya yang dikabarkan selamat ternyata sudah beredar di sana. Puji syukur dan perasaan sukacita memenuhi anggota keluarga saya. Kepada ibu, perasaan haru saya tumpahkandan saya dirangkul beliau sambil menangis. Saya membayangkan betapa akan sedihnya ibu bila saya termasuk yang gugur mengingat betapa beratnya beliau melepaskan saya waktu pamit ke front.

Tanggal 4 September 1947 sore dikitar jam 3 dilakukan pemakaman jenasah yang diberangkatkan dari Gedung BPKKP menuju tempat peristirahatan terakhir di Makam Taman Bahagia Semaki Yogyakarta dengan perhatian penuh warga masyarakat Ibukota Yogyakarta, khususnya para pelajar. Puluhan karangan bunga sebagai tanda bela sungkawa masyarakat menyertai iringan jenasah yang diangkut dengan beberapa truk terbuka dan dijaga rekan-rekan seperjuangannya. Sengan tembakan salvo, teman-teman yang gugur dimakamkan di Taman Pahlawan Semaki. Jenasah SoerjoHaryono, atas permintaan keluarganya, dimakamkan di Kuncen.

Dalam buku Peranan Pelajar dalam Perang Kemerdekaan yang disinggung di awal tulisan ini disebutkan 24 anggota TP gugur pada pertempuran Sidobunder, tetapi hanya 20 nama yang tertulis dalam buku itu. Yaitu:

1. Abunandir

2. Herman Fernandez

3. Poernomo

4. Soepadi

5. Achmadi

6. Kodara Sam

7. Pramono

8. Soerjoharyono

9. Ben Rumayar

10. Koenarso

11. Ridwan

12. Tadjoedin

13. Djoko Pramono

14. La Indi

15. Soegiyono

16. Willy Hutaoeroek

17. Harun

18. Losung F

19. Soehapto

20. Rinanggar

Adapun yang selamat, seingat saya 12 orang yaitu:

Sarbidu

Djokonomo

Anggoro

Alex Rumambi

Santoso

Kusdradjat

Imam Soekotjo

Linus Djentamat

Rinanto

Sujitno

Maulwi Saelan

Djokowoerjo

Penutup

Di antara kawan-kawan untuk waktu yang cukup lama saya mendapat julukan si penyelamat juki. Julukan itu rasanya terlalu berlebihan. Saya meyadari bahwa memang ada peranan saya, tapi sebenarnya sebatas pelengkap (instrumental) saja. Bukankah ide penyelamatan itu berawal dari Linus yang dapat menangkap situasi dan melihat jauh ke depan. Bahwasanya kemudian saya yang mendapat tugas untuk mengambilnya dari bekas lokasi pertempuran tidak lebih hanya karena sayalah yang dianggap mengetahui di mana senjata itu berada. Juki itu kemudian diperbaiki di Yogya dan kabarnya dapat berfungsi lagi.

Dari pengalaman ini ada 2 hal yang membekas di hati sanubari saya yaitu semangat perjuangan kawan-kawan yang sanggup mati untuk membela tanah air dan partisipasi aktif rakyat secara spontan tanpa pamrih dalam perjuangan membela kemerdekaan. Dalam perjalanan hidup saya kemudian, kesan ini senantiasa saya ingat dalam meniti karir hidup saya. Saya mengemban cita-cita kawan-kawan yang gugur, cita-cita generasi muda terpelajar yang setinggi langit memimpikan kejayaan tanah air. Semangat kawan-kawan coba saya bawa meniti karir saya. Mereka saya kenang dalam doa harian saya melambungkan puji syukur kepada Allah Yang Maharahim. Darma bakti kami kepada nusa dan bangsa. Semoga ini memenuhi cita-cita kawan-kawan yang yelah mendahuli menghadap Yang Maha Kudus di surga.

Bogor, Agustus September 1995 trip-tabur-bunga


TAGS Tentara Pelajar Front Barat Sidobunder


-

Author

Follow Me