• 11

    Apr

    Mengenang Perjalanan Sie Rusmin Nurjadin Masuk Kota Semarang

    Oleh: H. Soewignjo Pengantar Akhir tahun 1949, hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) memutuskan pasukan Angkatan Bersenjata RI secara bertahap akan masuk kota Semarang dan sebaliknya, pasukan Belanda ditarik mundur dari kota itu. Tanggal 27 Desember 1949 adalah hari yang ditetapkan dalam KMB sebagai hari penyerahan kedaulatan. Maka, sebelum tanggal itu pasukan TNI harus masuk kota Semarang (juga Surabaya, Bandung dan Jakarta). Oleh pimpinan TNI yang diperintahkan masuk Semarang adalah pasukan TP (Brigade 17). Didampingi Batalyon dan Brigade SS yang telah berada di sekitar kota itu. Masuk Kota Gombong Sekitar 10 Desember 1949, Seksi (Sie) Sumardi yang dipersiapkan masuk Gombong mulai bergerak dari Kuwarasan di Selatan ke Jatinegara (Sempor, Utara Gombong). Di sana mereka bertemu pasukan
  • 31

    Oct

    Menangislah Ibu Pertiwi

    Menangislah.. Jangan kau tahan pilumu Rasa sedih tiada tara Menangislah sekuat tenaga Wahai Ibu Pertiwi karna anak-anakmu yang durhaka Tak kenal budi tak tahu diri Hanya karena takut bayang diri tak bisa berhias diri dengan segengam imaji meski itu tak terpuji Menangislah.. Teriaklah Jewerlah kuping mereka yang tlah tertutup sumbatan jabatan dan mulut mereka yang berjejal uang jarahan Ibu Pertiwi Bimbinglah anak-anakmu yang ingin berbakti Dan kami terus berjanji Padamu kami mengabdi Tiada satupun yang mampu menghalangi Persembahan khusus : Untuk para syuhada Pelajar Pejuang Kemerdekaan Bersenjata ( Tentara Pelajar) Brigade XVII TNI yang gugur di berbagai medan laga
  • 4

    Oct

    Mengenang Pertempuran Sidobunder 2 September 1947 (selesai) Oleh: Djokowoerjo Sastradipraja; Prof. Dr; drh;

    Mengambil Jenasah dan Menyelamatan (Senapan) Juki Keesokan hari, tanggal 3 September 1947, sekitar puku 5.30 pagi diberangkatkan satu regu dari markas induk Karanganyar untuk mengambil jenasah dan senapan juki yang kami tinggalkan di Bumirejo sehari sebelumnya. Regu ini terdiri dari 10 orang, sebagian besar adalah teman-teman yang kami gantikan tugasnya di Desa Sugihwaras. Satu diantaranya adalah Wiratno. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan Alex Rumambi yang diangkut dengan usungan bambu oleh beberapa penduduk Desa Bumirejo. Kami sempat diberitahu bahwa semua jenasah yang ada di sana telah dibawa ke Kebumen. Setelah beristia\rahat sejenak di Desa Sugihwaras, regu ini dibagi dua. Oleh kepala regu saya diperintahkan ke Selatan menuju Desa Bumirejo bersama 4 orang teman. Tugas utama a
  • 4

    Oct

    Mengenang Pertempuran Sidobunder 2 September 1947 Oleh: Djokowoerjo Sastradipraja; Prof. Dr; drh; (lanjutan)

    Ia memberi saya tambahan 5 butir peluru dengan komentar mengapa tak meminta tambahan dua hari sebelumnya di markas Karanganyar saya ada pembagian logistik. Saya tak tahu ada pembagian itu. Meskipun saat itu saya menyadari kami sudah terkepung, namun saya membayangkan bahwa kami akan mampu bertahan karena adanya senjata brend dan juki. Sambil menanti peristiwa yang akan terjadi, kami sempat berbincang tentang adanya 2 orang yang menanyakan keberadaan markas di pagi sekali karena mereka memerlukan surat jalan. Setelah kami merangkai beragam kejadian dan adanya serangan yang tengah kami hadapi saat ini, akhirnya berujug pada kesimpulan bahwa mereka adalah mata-mata musuh. Sesaat waktu terdengar tembakan brendgun dari arah Timur yang semakin gencar dan mendekat. Pasukan Belanda mulai menghuja
  • 28

    Jul

    Semboyan dan Pepatah

    Salah satu semboyan yang cukup popular di kalangan Tentara Pelajar adalah : ” Kesetiaanku pada bangsa dan negara dari buaian sampai ke liang lahat “ Semboyan ini memotivasi para anggota Tentara Pelajar ketika akan berangkat dan tengah berada di medan juang. Suatu wujud nyata nasionalisme yang menyatukan semangat dan tekad menjadi daya juang luar biasa. Semboyan lain, khususnya di kalangan ex Tentara Pelajar Kedua Selatan adalah: “Mangan ora mangan kumpul, nek ora teka kebangeten” Arti harfiahnya adalah ada atau tidak ada hidangan dalam sebuah perhelatan yang dilakukan oleh anggota atau pengurus, sepanjang diberi tahu, maka menghadirinya lebih penting. Maknanya tentu menguatkan solidaritas sosial, esprit de corps ethics dll.
- Next

Author

Follow Me